Dalam memahami teks-teks agama, seringkali kita dihadapkan pada banyaknya perbedaan-perbedaan yang akhirnya dapat menyebabkan permusuhan dan pertengkaran hingga perpecahan. Hal ini biasanya ditimbulkan oleh adanya ekstrimisme dalam beragama oleh pemeluknya, tetapi juga terkadang terdapat golongan yang terlampau liberal dalam memahami agama tersebut. Melihat hal tersebut, maka sudah sepantasnyalah kita memilih untuk bersikap moderat atau berada pada sikap pertengahan yakni tidak ekstrim maupun liberal dalam beragama atau dalam bahasa lain sikap tersebut diistilahkan dengan sikap wasathiyyah.
Sikap atau paham moderat sering dimaknai dengan mengambil posisi tengah dalam setiap perkara, dengan memilih yang paling utama, paling baik, dan paling adil. Moderasi juga dapat dimaknai sebagai jalan meraih kebaikan dan keutamaan (Sudais, 1432, 22) atau merupakan sebuah pandangan yang senantiasa mengambil posisi tengah dari dua sikap yang bersebrangan dan berlebihan sehingga salah satu dari kedua sikap tersebut tidak mendominasi dalam pikiran maupun sikap seseorang (Qardhawi, 2011, 14). Jadi dapat disimpulkan bahwa moderasi beragama adalah cara mengejewantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum, berdasarkan prinsip adil, berimbang dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.
Moderasi ini tercermin dalam seluruh ajaran agama, contohnya Islam termaktub dalam bidang akidah, ibadah, maupun muamalah. Hal ini sesuai dengan fitrah kemanusiaan, dalam akidah misalnya, kita wajib beriman kepada yang ghaib akan tetapi juga perlu untuk membuktikan keimanan tersebut secara rasional dan empiris. Dalam bidang ibadah, penganut agama juga dituntut melakukan ibadah dalam bentuk dan jumlah yang sangat terbatas. Misalnya dalam islam, shalat lima waktuk dalam sehari, puasa sebulan dalam setahun, dan haji minimal sekali dalam seumur hidup; selebihnya, Allah mempersilahkan manusia untuk berkarya dan bekerja mencari rejeki Allah di atas permukaan bumi.
Manusia juga dianugerahi dua unsur: jasad dan ruh. Dengan adanya unsur jasad, manusia dapat menikmati keindahan alam, keragaman budaya dan lain sebagainya. Sementara unsur ruh dapat mendorongnya untuk selalu ingat Allah, Tuhan Yang Maha Esa Sang Pencipta alam semesta. Moderasi merupakan sikap jalan tengah atau sikap keragaman yang hingga saat ini menjadi terminologi alternatif di dalam diskursus keagamaan, baik ditingkat global maupun lokal. Moderasi ini dianggap sebagai sikap keragaman paling ideal dalam menyikapi kemelut konfik keagamaan yang mulai memanas antar golongan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar