Berawal pandemik covid 19 yang muncul di kisaran akhir tahun 2019 lalu mengakibatkan perubahan drastis pada hampir semua lini kehidupan. Hal itu tidak hanya terjadi pada Negara yang pertama kali menjadi tempat ditemukannya virus tersebut, melainkan ke seluruh pelosok muka bumi. Indonesia tercinta pun mengalaminya, dalam semua aspek pemerintahan baik sosial, politik, hukum, pertahanan keamanan dan terutama pendidikan.
Berfokus pada imbasnya pandemik covid 19 ini dalam dunia pendidikan bisa dilihat dari pesatnya penerapan istilah daring yang merupakan akronim (dalam jaringan) di semua akses kebijakan. Beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia seperti UGM, UI dan lain-lain melakukan pembelajaran, KKN hingga wisuda dengan metode daring. Hal serupa juga berlaku pada lembaga pendidikan baik jenjang menengah dan dasar. Sebenarnya pembelajaran daring pada lembaga pendidikan tinggi sudah menjadi hal biasa akan tetapi untuk jenjang menengah dan dasar yang menjadi sorotan tajam, dikarenakan selama lebih setengah abad telah berlalu pembelajaran yang dilakukan masih pada prinsip tatap muka atau luring (luar jaringan).
Berbicara tentang pendidikan pada jenjang menengah dan dasar, pikiran kita langsung diarahkan ke sebuah lembaga yang bernama sekolah/madrasah dengan memiliki batasan wilayah yang di dalamnya terdapat sekat-sekat atau biasa disebut ruang kelas. Sebenarnya hal itu bukanlah menjadi suatu problem utama melainkan mindset bahwa belajar harus dilakukan pada suatu tempat dengan batasan waktu tertentu, hal ini yang menjadi kendala ketika ingin menerapkan suatu metode pembelajaran darurat seperti saat pandemik sekarang ini. Padahal menurut informasi dari Badan Informasi Geospasial dalam tulisan (Evita, 2020) dinyatakan bahwa luas wilayah Indonesia untuk daratan ialah 1.922.570 km2 dan perairan 3.257.483 km2 yang bermakna bahwa 63% wilayah Indonesia adalah lautan. Dengan wilayah berbentuk kepulauan, Indonesia punya lautan yang lebih luas daripada daratan. Maka, Indonesia punya iklim laut yang lembap, kelembapan udara tinggi, amplitudo rendah, dan suhu yang tidak begitu berbeda antara siang dan malam.
Dilain sisi terdapat pula kendala terkait bentuk kepulauan yang menjadi identitas Negara Indonesia tercinta yakni kesenjangan pembangunan antara daerah dekat dan yang berjarak dari pusat pemerintahan. Padahal jika kita melihat jauh ke belakang para pendiri bangsa mengharapkan adanya keadilan bagi seluruh warga Negara dalam mengakses segala informasi guna mendukung perkembangan pengetahuannya. Sudah banyak hal yang dilakukan oleh baik pemerintah pusat maupun daerah untuk menjauhkan disparitas itu seperti kebijakan untuk melonggarkan penggunaan dana BOS/BOM guna mendukung ketercapaian pembelajaran jarak jauh atau daring, juga pengadaan webinar yang meluas untuk para tenaga pendidik dalam rangka menyikapi perubahan fokus pembelajaran dari berbasis tatap muka (luring) ke dalam jaringan.
Banyak hal patut untuk diapresiasi dari berbagai langkah strategis yang telah dilakukan oleh pemerintah. Akan tetapi fakta di lapangan banyak siswa yang merasa jenuh karena form merdeka belajar oleh ‘mas menteri’ direspon kurang tepat oleh sebagian kalangan praktisi pendidikan. Banyak tenaga pendidik hanya memaknai merdeka belajar dengan inovasi dalam membuat video pembelajaran untuk di distribusikan ke para siswa dengan mengabaikan background ekonomi dan sosial sehingga menjadi beban tidak hanya bagi siswa tetapi juga para orang tua. Melihat problem terkini tadi maka jargon ‘daring adalah pembelajaran masa depan’ perlu direnungkan kembali apakah bentuk Negara kepulauan seperti kita ini sudah layak menerapkannya?. Akronim daring yang tadinya adalah dalam jaringan bisa dimodifikasi agar sesuai dengan bentuk Negara kita yakni daring (dengan jaring).
Jaring bagi seorang nelayan adalah senjata yang digunakan untuk menjaring ikan atau alat yang digunakan untuk melakukan tangkapan hewan dilautan.
Filosofi jaring ini bisa dimaknai dengan ‘integrasi’ yakni pembauran sehingga bisa menjadi suatu kesatuan. Siswa dapat belajar bersama dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil berbasis daerah untuk mendukung pembelajaran serta menyelesaikan sebuah proyek yang terintegrasi untuk beberapa mata pelajaran, hal ini bisa menjadi alternatif bagi pendidikan di daerah kepulauan ini. Selanjutnya mengenai integrasi dalam pembelajaran terdapat sebuah pendekatan yang sedang menjadi tren beberapa tahun terakhir di USA yakni STEM.
Berbicara tentang STEM ada sebuah artikel menarik dari (Utami, Septiyanto, Wibowo, Suryana, & Permanasari, 2017) yang menyatakan bahwa tujuan STEM adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam ilmu pengetahuan dan berinovasi pada produk teknologi agar dapat bersaing secara global. Sejalan dengan hal itu Kennedy Dan Odell dalam (Kelley & Knowles, 2016) menunjukkan bahwa pendidikan STEM yang berkualitas tinggi harus mencakup (a) integrasi teknologi dan teknik; (b) mengedepankan penyelidikan ilmiah dan desain teknik; (c) pendekatan kolaboratif, menghubungkan siswa dan pendidik dengan STEM; (d) menyediakan sudut pandang global dan multi perspektif; (e) menggabungkan strategi seperti pembelajaran berbasis proyek, menyediakan pengalaman belajar formal dan informal; serta (f) memasukkan teknologi yang sesuai untuk meningkatkan pembelajaran. Berdasarkan banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran STEM dengan menghadirkan animasi dalam pembelajaran berimbas meningkatnya pengetahuan konsep dari para peserta didik.
Sejalan dengan hal itu (Morales, 2015) menggaris bawahi bahwa penggunaan budaya lokal, tradisi, praktik, kepercayaan, dan bahasa asli dapat membantu meningkatkan sikap siswa terhadap sains. Demikian beberapa paparan terkait pembelajaran daring bagi siswa di daerah kepulauan dimana sangat penting untuk mengedepankan kearifan lokal daerah sekitar guna mendukung terselenggaranya pendidikan yang kontekstual sehingga menurut (Minggele, 2020, p. 78) siswa dengan motivasi yang berorientasi pada sasaran pembelajaran (learning goal) dan yang berorientasi pada sasaran kinerja (performance goal) dapat terakomodir sasaran pembelajarannya.
Referensi
Evita. (2020). Luas Wilayah Indonesia. Retrieved September 10, 2020, from https://www.quipper.com/id/blog/mapel/geografi/luas-wilayah-indonesia/
Kelley, T. R., & Knowles, J. G. (2016). A conceptual framework for integrated STEM education. International Journal of STEM Education. https://doi.org/10.1186/s40594-016-0046-z
Minggele, D. (2020). Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dengan Pembelajaran Kooperatife Tipe STAD. Bandung: CV. Amerta Media.
Morales, M. P. E. (2015). Influence of culture and language sensitive physics on science attitude enhancement. Cultural Studies of Science Education, 10(4), 951–984. https://doi.org/10.1007/s11422-015-9669-5
Utami, I. S., Septiyanto, R. F., Wibowo, F. C., Suryana, A., & Permanasari, A. (2017). Pengembangan STEM A Berbasis Kearifan Lokal Dalam Pembelajaran Fisika. Ilmiah Pendidikan Fisika Al Biruni, 06(April), 23–34. https://doi.org/10.24042/jpifalbiruni.v6i1.1581

Paparan yang luar biasa. Saya membayangkan betapa repotnya menjadi guru di masa pandemi di daerah kepulauan yang miskin sinyal.
BalasHapusBenar sekali bapak, sehingga butuh inovasi dan kreasi dari rekan-rekan guru untuk menyikapinya.
HapusHarapannya adalah setiap siswa tidak kehilangan kesempatan belajar meski pada masa pandemic seperti sekarang ini.