“Mencengangkan”
Awal
perkuliahan kami disajikan dengan sesuatu yang ‘mencengangkan’ yakni kami
diminta untuk membuka youtube kemudian mengetikkan judul ketoprak “Rembulan
Kekalang” dan ternyata pemeran Rajanya adalah Prof. Marsigit sendiri dan Pak
Rektor malah memerankan peran bawahan. Hal ini sungguh bertolak belakang dengan
paradigma berpikir sekarang dimana seorang pimpinan institusi atau apapun
senantiasa berada di atas atau pada posisi yang tertinggi. Pemimpin sejati akan
berusaha bijaksana, kebijaksanaan tak hanya dimiliki oleh para filsuf maupun
pemuka agama. Kebijaksanaan wajib ada pada diri setiap individu, tak terkecuali
seorang pemimpin. Jika seorang individu tak memiliki sifat bijaksana, maka ia
akan bertindak semena-mena dalam menjalankan roda kepemimpinan. Ini merupakan
pelajaran pertama ketika mengalami perkuliahan bersama beliau Prof. Marsigit
yang juga merupakan Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.
Pada
tahapan berikutnya proses pengenolan ego atau dalam bahasa beliau ‘nolisasi ego’.
Proses ini beliau lakukan dengan tes singkat yang berjumlah 20 nomor hasilnya adalah tidak
terduga, semua jawaban kami tidak ada
yang benar dari dua puluh pertanyaan, kemudian beliau memberitahu cara perhitungan nilainya
yaitu jumlah yang benar dikalikan 5. Ternyata itu
merupakan model pembelajaran ‘nolisasi’ oleh beliau dimana jika ingin belajar apapun kita harus membuat
diri kita berada pada titik nol.
Terkait hal ini ada satu ungkapan Carlos Castaneda ‘We
either make ourselves miserable, or we make ourselves strong. The amount of
work is the same’. Kita
bisa membuat diri kita menderita, atau kita membuat diri kita kuat. Jumlah
pekerjaannya sama. Hidup adalah
sebuah proses. Seperti kata Ralph Waldo Emerson, “Life is a journey, not a
destination.”. Ketika kita mengakui bahwa hidup ini sebuah perjalanan kita
akan benar-benar menyadari bahwa yang penting adalah sensasi perjalanan dan
prosesnya jadi tidak melulu dengan sebuah hasil. Ego kita tidak perduli sebuah
proses. Jika kita mengikuti ego yang seperti ini kita tidak akan bisa menikmati
saat ini dan petualangan-petualangan yang bisa kita dapat dalam perjalanan
hidup. Mengatasi ego ini bisa membuat kita menikmati apa yang ada sekarang dan
membuat kita fokus pada proses.
Tahapan
pekuliahan berikutnya adalah mahasiswa diminta untuk mengomentari artikel
maupun tulisan-tulisan beliau yang tersajikan di blog beliau yaitu https://powermathematics.blogspot.com.
Ada banyak artikel maupun tulisan beliau yang sangat menarik dan
‘mencengangkan’ dimulai dari judul semisal ‘Matematika Ikhlas’, ‘Matematika
Ibadah’ dan lain-lain sehingga memancing kami untuk berkomentar di blog
tersebut. Beliau sering mengilustrasikan tulisan maupun artikelnya dengan
dialog anatara beberapa tokoh dalam dunia pewayangan diantaranya semar, togog,
petruk, bagong dan lain-lain. Hal ini membuat saya mulai mencari tahu peran dari
masing-masing tokoh pewayangan punakawan tersebut. Menurut
Slamet Muljana seorang
sejarawan istilah punakawan berasal dari kata pana
yang artinya paham, dan kawan yang artinya teman. Punakawan
merupakan tokoh pewayangan yang diciptakan oleh seorang pujangga Jawa. Tokoh
Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan Empu
Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri.
Tokoh punakawan utama dalam artikel atau tulisan-tulisan beliau yaitu Semar.
Semar digambarkan sebagai tokoh yang sabar serta
seringkali memberikan pertanyaan maupun nasihat yang bijaksana.
Interpretasi dari penampilan kepala
dan pandangan Semar yang menghadap
ke atas, menggambarkan kehidupan manusia agar selalu mengingat Sang Kuasa. Sedangkan kain yang dipakai
sebagai baju oleh Semar, yakni kain Semar Parangkusumorojo merupakan perwujudan
agar memayuhayuning banowo atau menegakkan keadilan dan kebenaran di
bumi. Di kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai simbol ke-Esaan. Dan dalam perkuliahan beliau biasa menyebut dirinya
sang ‘Semar’ atau ‘Dewa Marsigit’.
Beberapa
catatan kunci dari perkuliahan filsafat pendidikan oleh Prof. Dr. Marsigit,
M.A. ‘Sebenar-benarnya filsafat yaitu penjelasan kita masing-masing’ hal ini
selalu menjadi kata kunci yang beliau tekankan kepada kami. Mindset kita harus
diubah dari belajar yaitu ‘memberikan’ ilmu sebenar-benarnya tidak ada yang ada
ialah membangun ilmu. Filsafat itu adalah segala sesuatu yang ada dan yang
mungkin ada. Tiadalah berfilsafat jika tidak berkenaan dengan para filsuf. Filsafat
dibangun oleh ‘aku dan bukan aku’. Tahapan berfilsafat dimulai dari material,
normatif, formal, dan yang tertinggi yaitu spiritual, Sehingga seringkali
beliau ingatkan bahwa kebenaran absolut adalah kebenaran Allah Tuhan yang maha
kuasa. Tiadalah kesalahan dalam berfilsafat melainkan ketidaksesuain antara
ruang dan waktu.
Sejarah
singkat filsafat masa yunani kuno, pada tahap awal kelahirannya
filsafat menampakkan diri sebagi suatu bentuk mitologi, serta dongeng-dongeng
yang dipercayai oleh bangsa yunani, baru sesudah Thales (624-548 S.M)
mengemukakan pertanyaan aneh pada waktu itu, filsafat berubah menjadi suatu
bentuk pemikiran rasional (logos). Pertanyaan Thales yang menggambarkan rasa
keingintahuan bukanlah pertanyaan biasa seperti apa rasa kopi?, atau pada tahun
keberapa tanaman kopi berbuah?, pertanyaan Thales yang merupakan pertanyaan
filsafat, karena mempunyai bobot yang dalam sesuatu yang ultimate (bermakna dalam) yang mempertanyakan tentang apa
sebenarnya bahan alam semesta ini (What
is the nature of the world stuff?), atas pertanyaan ini indra tidak bisa
menjawabnya, sains juga terdiam, namun filsuf berusaha menjawabnya. Thales
menjawab Air (Water is the basic
principle of the universe), dalam pandangan Thales air merupakan prinsip
dasar alam semesta, karena air dapat berubah menjadi berbagai wujud. Kemudian silih berganti
Filsuf memberikan jawaban terhadap bahan dasar (Arche) dari semesta raya ini dengan argumentasinya masing-masing.
Anaximandros (610-540 S.M) mengatakan Arche
is to Apeiron. Apeiron adalah sesuatu yang paling awal dan
abadi, Pythagoras (580-500 S.M) menyatakan bahwa hakekat alam semesta adalah
bilangan, Demokritos (460-370 S.M) berpendapat hakekat alam semesta adalah
Atom, Anaximenes (585-528 S.M) menyatakan udara, dan Herakleitos (544-484 S.M)
menjawab asal hakekat alam semesta adalah api, dia berpendapat bahwa di dunia
ini tak ada yang tetap, semuanya mengalir. Variasi jawaban yang dikemukakan
para filsuf menandai dinamika pemikiran yang mencoba mendobrak dominasi
mitologi, mereka mulai secara intens memikirkan tentang Alam/Dunia, sehingga
sering dijuluki sebagai Philosopher
atau ahli tentang filsafat alam (Natural
Philosopher), yang dalam perkembangan
selanjutnya melahirkan ilmu-ilmu kealaman. Pada perkembangan
selanjutnya, disamping pemikiran tentang Alam, para ahli fikir yunani pun
banyak yang berupaya memikirkan tentang hidup kita (manusia) di Dunia. Dari
titik tolak ini lahirlah filsafat moral atau filsafat sosial yang pada tahapan
berikutnya mendorong lahirnya ilmu-ilmu sosial. Diantara filsuf terkenal yang
banyak mencurahkan perhatiannya pada kehidupan manusia adalah Socrates (470-399
S.M), dia sangat menentang ajaran kaum Sofis yang cenderung
mempermainkan kebenaran. Kaum
Sofis adalah golongan yang tidak lagi memikirkan alam, malainkan melatih
kemahiran manusia dalam berpidato, berargumentasi untuk mempertahankan
kebenaran, akan tetapi bagi mereka kebenaran itu sifatnya relatif tergantung
kemampuan berargumentasi. Salah seorang tokohnya adalah Protagoras yang
berpendapat bahwa Man is the measure of
all things objektif yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua
orang. Dia mengajukan pertanyaan pada siapa saja yang ditemui dijalan untuk
membukakan batin warga Athena kepada kebenaran (yang benar) dan kebaikan (yang
baik). Dari perilakunya
ini pemerintah Athena menganggap Socrates sebagai penghasut, dan akhirnya dia
dihukum mati dengan jalan meminum racun. Sesudah Socrates mennggal,
filsafat Yunani terus berkembang dengan Tokohnya Plato (427-347 S.M), salah
seorang murid Socrates. Diantara pemikiran Plato yang penting adalah berkaitan
dengan pembagian realitas
ke dalam dua bagian yaitu realitas/dunia yang hanya terbuka bagi rasio, dan
dunia yang terbuka bagi pancaindra, dunia pertama terdiri dari idea-idea, dan
dunia ke dua adalah dunia jasmani (pancaindra), dunia ide sifatnya sempurna dan
tetap, sedangkan dunia jasmani selalu berubah. Dengan pendapatnya tersebut,
menurut Kees Berten (1976), Plato berhasil mendamaikan pendapatnya Herakleitos
dengan pendapatnya Permenides, menurut Herakleitos segala sesuatu selalu
berubah, ini benar kata Plato, tapi hanya bagi dunia jasmani (pancaindra),
sementara menurut Permenides segala sesuatu sama sekali sempurna dan tidak
dapat berubah, ini juga benar kata Plato, tapi hanya berlaku pada dunia idea
saja. Dalam sejarah filsafat yunani, terdapat seorang filsuf yang sangat
legendaris yaitu Aristoteles (384-322 S.M), seorang yang pernah belajar di
Akademia Plato di Athena. Setelah Plato meninggal Aristoteles menjadi guru
pribadinya Alexander Agung selama dua tahun, sesudah itu dia kembali lagi ke
Athena dan mendirikan Lykeion, dia sangat mengagumi pemikiran-pemikiran Plato
meskipun dalam filsafat, Aristoteles mengambil jalan yang berbeda (Aristoteles
pernah mengatakan-ada juga yang berpendapat bahwa ini bukan ucapan Aristoteles ‘Amicus Plato, magis
amica veritas’ artinya
Plato memang sahabatku, tapi kebenaran lebih akrab bagiku, ungkapan ini terkadang
diterjemahkan bebas menjadi ‘Saya
mencintai Plato, tapi saya lebih mencintai kebenaran’). Aristoteles mengkritik tajam pendapat Plato tentang
idea-idea, menurut dia yang umum dan tetap bukanlah dalam dunia idea akan
tetapi dalam benda-benda jasmani itu sendiri, untuk itu Aristoteles
mengemukakan teori Hilemorfisme (Hyle = Materi, Morphe = bentuk), menurut teori
ini, setiap benda jasmani memiliki dua hal yaitu bentuk dan materi, sebagai
contoh, sebuah patung pasti memiliki dua hal yaitu materi atau bahan baku
patung misalnya kayu atau batu, dan bentuk misalnya bentuk kuda atau bentuk
manusia, keduanya tidak mungkin lepas satu sama lain, contoh tersebut hanyalah
untuk memudahkan pemahaman, sebab dalam pandangan Aristoteles materi dan bentuk
itu merupakan prinsip-prinsip metafisika untuk memperkukuh dimingkinkannya Ilmu
pengetahuan atas dasar bentuk dalam setiap benda konkrit. Teori hilemorfisme
juga menjadi dasar bagi pandangannya tentang manusia, manusia terdiri dari
materi dan bentuk, bentuk adalah jiwa, dan karena bentuk tidak pernah lepas
dari materi, maka konsekwensinya adalah bahwa apabila manusia mati, jiwanya
(bentuk) juga akan hancur. Disamping pendapat tersebut Aristoteles juga dikenal
sebagai Bapak Logika yaitu suatu cara berpikir yang teratur menurut urutan yang
tepat atau berdasarkan hubungan sebab akibat. Dia adalah yang pertama kali
membentangkan cara berpikir teratur dalam suatu sistem.
Abad
Pertengahan, Semenjak meninggalnya Aristoteles, filsafat terus berkembang dan
mendapat kedudukan yang tetap penting dalam kehidupan pemikiran manusia
meskipun dengan corak dan titik tekan yang berbeda. Periode sejak meninggalnya
Aristoteles (atau sesudah meninggalnya Alexander Agung (323 S.M) sampai
menjelang lahirnya Agama Kristen oleh Droysen (Ahmad Tafsir. 1992) disebut
periode Hellenistik (Hellenisme adalah istilah yang menunjukan kebudayaan
gabungan antara budaya Yunani dan Asia Kecil, Siria, Mesopotamia, dan Mesir Kuno).
Dalam masa ini Filsafat ditandai antara lain dengan perhatian pada hal yang
lebih aplikatif, serta kurang memperhatikan Metafisika, dengan semangat yang
Eklektik (mensintesiskan pendapat yang berlawanan) dan bercorak Mistik. Pada
masa ini filsafat cenderung kehilangan otonominya, pemikiran filsafat abad
pertengahan bercirikan Teosentris (kebenaran berpusat pada wahyu Tuhan), hal
ini tidak mengherankan mengingat pada masa ini pengaruh Agama Kristen sangat
besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pemikiran. Filsafat abad
pertengahan sering juga disebut filsafat scholastik, yakni filsafat yang
mempunyai corak semata-mata bersifat keagamaan, dan mengabdi pada teologi. Pada
masa ini memang terdapat upaya-upaya para filsuf untuk memadukan antara pemikiran
Rasional (terutama pemikiran-pemikiran Aristoteles) dengan Wahyu Tuhan sehingga
dapat dipandang sebagai upaya sintesa antara kepercayaan dan akal. Keadaan ini
pun terjadi dikalangan umat Islam yang mencoba melihat ajaran Islam dengan
sudut pandang Filsafat (rasional), hal ini dimungkinkan mengingat begitu
kuatnya pengaruh pemikiran-pemikiran ahli filsafat Yunani/hellenisme dalam
dunia pemikiran saat itu, sehingga keyakinan Agama perlu dicarikan landasan
filosofisnya agar menjadi suatu keyakinan yang rasional. Pemikiran-pemikiran
yang mencoba melihat Agama dari perspektif filosofis terjadi baik di dunia
Islam maupun Kristen, sehingga para ahli mengelompokan filsafat skolastik ke
dalam filsafat skolastik Islam dan filsafat skolastik Kristen.
Masa
Modern, pada masa ini pemikiran filosofis seperti dilahirkan kembali dimana
sebelumnya dominasi gereja sangat dominan yang berakibat pada upaya
mensinkronkan antara ajaran gereja dengan pemikiran filsafat. Kebangkitan
kembali rasio mewarnai zaman modern dengan salah seorang pelopornya adalah
Descartes, dia berjasa dalam merehabilitasi, mengotonomisasi kembali rasio yang
sebelumnya hanya menjadi budak keimanan. Diantara pemikiran Desacartes
(1596-1650) yang penting adalah diktum kesangsian, dengan mengatakan Cogito ergo sum, yang biasa diartikan
saya berfikir, maka saya ada. Dengan ungkapan ini posisi rasio/fikiran sebagai
sumber pengetahuan menjadi semakin kuat, ajarannya punya pengaruh yang cukup
besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, segala sesuatu bisa disangsikan tapi
subjek yang berfikir menguatkan kepada kepastian. Dalam perkembangnnya argumen
Descartes (rasionalisme) mendapat
tantangan keras dari para filosof penganut Empirisme seperti David Hume
(1711-1776), John Locke (1632-1704). Mereka berpendapat bahwa pengetahuan hanya
didapatkan dari pengalaman lewat pengamatan empiris. Pertentangan tersebut
terus berlanjut sampai muncul Immanuel Kant (1724-1804) yang berhasil membuat
sintesis antara rasionalisme dengan empirisme, Kant juga dianggap sebagai tokoh
sentral dalam zaman modern dengan pernyataannya yang terkenal sapere
aude(berani berfikir sendiri), pernyataan ini jelas makin mendorong upaya-upaya
berfikir manusia tanpa perlu takut terhadap kekangan dari Gereja. Pandangan
empirisme semakin kuat pengaruhnya dalam cabang ilmu pengetahuan setelah
munculnya pandangan August Comte (1798-1857) tentang Positivisme. Salah satu
buah pikirannya yang sangat penting dan berpengaruh adalah tentang tiga
tahapan/tingkatan cara berpikir manusia dalam berhadapan dengan alam semesta
yaitu : tingkatan Teologi, tingkatan Metafisik, dan tingkatan Positif. Tingkatan
Teologi (Etat Theologique). Pada
tingkatan ini manusia belum bisa memahami hal-hal yang berkaitan dengan sebab
akibat. Segala kejadian dialam semesta merupakan akibat dari suatu perbuatan
Tuhan dan manusia hanya bersifat pasrah, dan yang dapat dilakukan adalah
memohon pada Tuhan agar dijauhkan dari berbagai bencana. Tahapan ini terdiri
dari tiga tahapan lagi yang berevolusi yakni dari tahap animisme, tahap politeisme,
sampai dengan tahap monoteisme. Tingkatan Metafisik (Etat Metaphisique). Pada dasarnya tingkatan ini merupakan suatu
variasi dari cara berfikir teologis, dimana Tuhan atau Dewa-dewa diganti dengan
kekuatan-kekuatan abstrak misalnya dengan istilah kekuatan alam. Dalam tahapan
ini manusia mulai menemukan keberanian dan merasa bahwa kekuatan yang
menimbulkan bencana dapat dicegah dengan memberikan berbagai sajian-sajian
sebagai penolak bala/bencana. Tingkatan Positif (Etat Positive). Pada tahapan ini manusia sudah menemukan
pengetahuan yang cukup untuk menguasai alam. Jika pada tahapan pertama manusia
selalu dihinggapi rasa khawatir berhadapan dengan alam semesta, pada tahap
kedua manusia mencoba mempengaruhi kekuatan yang mengatur alam semesta, maka
pada tahapan positif manusia lebih percaya diri, dengan ditemukannya
hukum-hukum alam, dengan bekal itu manusia mampu menundukan/mengatur
(pernyataan ini mengindikasikan adanya pemisahan antara subyek yang mengetahui
dengan obyek yang diketahui) alam serta memanfaatkannya untuk kepentingan
manusia, tahapan ini merupakan tahapan dimana manusia dalam hidupnya lebih
mengandalkan pada ilmu pengetahuan. Dengan memperhatikan tahapan-tahapan
seperti dikemukakan di atas nampak bahwa istilah positivisme mengacu pada
tahapan ketiga (tahapan positif/pengetahuan positif) dari pemikiran Comte.
Tahapan positif merupakan tahapan tertinggi, ini berarti dua tahapan sebelumnya
merupakan tahapan yang rendah dan primitif, oleh karena itu filsafat
Positivisme merupakan filsafat yang anti metafisik, hanya fakta-fakta saja yang
dapat diterima. Segala sesuatu yang bukan fakta atau gejala (fenomin) tidak mempunyai arti, oleh
karena itu yang penting dan punya arti hanya satu yaitu mengetahui
(fakta/gejala) agar siap bertindak (savoir
pour prevoir). Manusia harus menyelidiki dan mengkaji berbagai gejala yang
terjadi beserta hubungan-hubungannya diantara gejala-gejala tersebut agar dapat
meramalkan apa yang akan terjadi, Comte menyebut hubungan-hubungan tersebut
dengan konsep-konsep dan hukum-hukum yang bersifat positif dalam arti berguna
untuk diketahui karena benar-benar nyata bukan bersifat spekulasi seperti dalam
metafisika. Pengaruh positivisme yang sangat besar dalam zaman modern sampai
sekarang ini, telah mengundang para pemikir untuk mempertanyakannya, kelahiran
post modernisme yang narasi awalnya dikemukakan oleh Daniel Bell dalam bukunya The cultural contradiction of capitalism,
yang salah satu pokok fikirannya adalah bahwa etika kapitalisme yang menekankan
kerja keras, individualitas, dan prestasi telah berubah menjadi hedonis
konsumeristis.
Postmodernisme
pada dasarnya merupakan pandangan yang tidak/kurang mempercayai narasi-narasi
universal serta kesamaan dalam segala hal, faham ini lebih memberikan tempat
pada narasi-narasi kecil dan lokal yang berarti lebih menekankan pada
keberagaman dalam memaknai kehidupan.