Selasa, 27 November 2018

Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan


“Mencengangkan”
           
Awal perkuliahan kami disajikan dengan sesuatu yang ‘mencengangkan’ yakni kami diminta untuk membuka youtube kemudian mengetikkan judul ketoprak “Rembulan Kekalang” dan ternyata pemeran Rajanya adalah Prof. Marsigit sendiri dan Pak Rektor malah memerankan peran bawahan. Hal ini sungguh bertolak belakang dengan paradigma berpikir sekarang dimana seorang pimpinan institusi atau apapun senantiasa berada di atas atau pada posisi yang tertinggi. Pemimpin sejati akan berusaha bijaksana, kebijaksanaan tak hanya dimiliki oleh para filsuf maupun pemuka agama. Kebijaksanaan wajib ada pada diri setiap individu, tak terkecuali seorang pemimpin. Jika seorang individu tak memiliki sifat bijaksana, maka ia akan bertindak semena-mena dalam menjalankan roda kepemimpinan. Ini merupakan pelajaran pertama ketika mengalami perkuliahan bersama beliau Prof. Marsigit yang juga merupakan Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.
Pada tahapan berikutnya proses pengenolan ego atau dalam bahasa beliau ‘nolisasi ego’. Proses ini beliau lakukan dengan tes singkat yang berjumlah 20 nomor hasilnya adalah tidak terduga, semua jawaban kami tidak ada yang benar dari dua puluh pertanyaan, kemudian beliau memberitahu cara perhitungan nilainya yaitu jumlah yang benar dikalikan 5. Ternyata itu merupakan model pembelajaran nolisasi’ oleh beliau dimana jika ingin belajar apapun kita harus membuat diri kita berada pada titik nol. Terkait hal ini ada satu ungkapan Carlos CastanedaWe either make ourselves miserable, or we make ourselves strong. The amount of work is the same’. Kita bisa membuat diri kita menderita, atau kita membuat diri kita kuat. Jumlah pekerjaannya sama. Hidup adalah sebuah proses. Seperti kata Ralph Waldo Emerson, “Life is a journey, not a destination.”. Ketika kita mengakui bahwa hidup ini sebuah perjalanan kita akan benar-benar menyadari bahwa yang penting adalah sensasi perjalanan dan prosesnya jadi tidak melulu dengan sebuah hasil. Ego kita tidak perduli sebuah proses. Jika kita mengikuti ego yang seperti ini kita tidak akan bisa menikmati saat ini dan petualangan-petualangan yang bisa kita dapat dalam perjalanan hidup. Mengatasi ego ini bisa membuat kita menikmati apa yang ada sekarang dan membuat kita fokus pada proses.
Tahapan pekuliahan berikutnya adalah mahasiswa diminta untuk mengomentari artikel maupun tulisan-tulisan beliau yang tersajikan di blog beliau yaitu https://powermathematics.blogspot.com. Ada banyak artikel maupun tulisan beliau yang sangat menarik dan ‘mencengangkan’ dimulai dari judul semisal ‘Matematika Ikhlas’, ‘Matematika Ibadah’ dan lain-lain sehingga memancing kami untuk berkomentar di blog tersebut. Beliau sering mengilustrasikan tulisan maupun artikelnya dengan dialog anatara beberapa tokoh dalam dunia pewayangan diantaranya semar, togog, petruk, bagong dan lain-lain. Hal ini membuat saya mulai mencari tahu peran dari masing-masing tokoh pewayangan punakawan tersebut. Menurut Slamet Muljana seorang sejarawan istilah punakawan berasal dari kata pana yang artinya paham, dan kawan yang artinya teman. Punakawan merupakan tokoh pewayangan yang diciptakan oleh seorang pujangga Jawa. Tokoh Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri. Tokoh punakawan utama dalam artikel atau tulisan-tulisan beliau yaitu Semar. Semar digambarkan sebagai tokoh yang sabar serta seringkali memberikan pertanyaan maupun nasihat yang bijaksana. Interpretasi dari penampilan kepala dan pandangan Semar yang menghadap ke atas, menggambarkan kehidupan manusia agar selalu mengingat Sang Kuasa. Sedangkan kain yang dipakai sebagai baju oleh Semar, yakni kain Semar Parangkusumorojo merupakan perwujudan agar memayuhayuning banowo atau menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Di kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai simbol ke-Esaan. Dan dalam perkuliahan beliau biasa menyebut dirinya sang ‘Semar’ atau ‘Dewa Marsigit’.
Beberapa catatan kunci dari perkuliahan filsafat pendidikan oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A. ‘Sebenar-benarnya filsafat yaitu penjelasan kita masing-masing’ hal ini selalu menjadi kata kunci yang beliau tekankan kepada kami. Mindset kita harus diubah dari belajar yaitu ‘memberikan’ ilmu sebenar-benarnya tidak ada yang ada ialah membangun ilmu. Filsafat itu adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Tiadalah berfilsafat jika tidak berkenaan dengan para filsuf. Filsafat dibangun oleh ‘aku dan bukan aku’. Tahapan berfilsafat dimulai dari material, normatif, formal, dan yang tertinggi yaitu spiritual, Sehingga seringkali beliau ingatkan bahwa kebenaran absolut adalah kebenaran Allah Tuhan yang maha kuasa. Tiadalah kesalahan dalam berfilsafat melainkan ketidaksesuain antara ruang dan waktu.
Sejarah singkat filsafat masa yunani kuno, pada tahap awal kelahirannya filsafat menampakkan diri sebagi suatu bentuk mitologi, serta dongeng-dongeng yang dipercayai oleh bangsa yunani, baru sesudah Thales (624-548 S.M) mengemukakan pertanyaan aneh pada waktu itu, filsafat berubah menjadi suatu bentuk pemikiran rasional (logos). Pertanyaan Thales yang menggambarkan rasa keingintahuan bukanlah pertanyaan biasa seperti apa rasa kopi?, atau pada tahun keberapa tanaman kopi berbuah?, pertanyaan Thales yang merupakan pertanyaan filsafat, karena mempunyai bobot yang dalam sesuatu yang ultimate (bermakna dalam) yang mempertanyakan tentang apa sebenarnya bahan alam semesta ini (What is the nature of the world stuff?), atas pertanyaan ini indra tidak bisa menjawabnya, sains juga terdiam, namun filsuf berusaha menjawabnya. Thales menjawab Air (Water is the basic principle of the universe), dalam pandangan Thales air merupakan prinsip dasar alam semesta, karena air dapat berubah menjadi berbagai wujud. Kemudian silih berganti Filsuf memberikan jawaban terhadap bahan dasar (Arche) dari semesta raya ini dengan argumentasinya masing-masing. Anaximandros (610-540 S.M) mengatakan Arche is to Apeiron.  Apeiron adalah sesuatu yang paling awal dan abadi, Pythagoras (580-500 S.M) menyatakan bahwa hakekat alam semesta adalah bilangan, Demokritos (460-370 S.M) berpendapat hakekat alam semesta adalah Atom, Anaximenes (585-528 S.M) menyatakan udara, dan Herakleitos (544-484 S.M) menjawab asal hakekat alam semesta adalah api, dia berpendapat bahwa di dunia ini tak ada yang tetap, semuanya mengalir. Variasi jawaban yang dikemukakan para filsuf menandai dinamika pemikiran yang mencoba mendobrak dominasi mitologi, mereka mulai secara intens memikirkan tentang Alam/Dunia, sehingga sering dijuluki sebagai Philosopher atau ahli tentang filsafat alam (Natural Philosopher), yang dalam perkembangan selanjutnya melahirkan ilmu-ilmu kealaman. Pada perkembangan selanjutnya, disamping pemikiran tentang Alam, para ahli fikir yunani pun banyak yang berupaya memikirkan tentang hidup kita (manusia) di Dunia. Dari titik tolak ini lahirlah filsafat moral atau filsafat sosial yang pada tahapan berikutnya mendorong lahirnya ilmu-ilmu sosial. Diantara filsuf terkenal yang banyak mencurahkan perhatiannya pada kehidupan manusia adalah Socrates (470-399 S.M), dia sangat menentang ajaran kaum Sofis yang cenderung mempermainkan kebenaran. Kaum Sofis adalah golongan yang tidak lagi memikirkan alam, malainkan melatih kemahiran manusia dalam berpidato, berargumentasi untuk mempertahankan kebenaran, akan tetapi bagi mereka kebenaran itu sifatnya relatif tergantung kemampuan berargumentasi. Salah seorang tokohnya adalah Protagoras yang berpendapat bahwa Man is the measure of all things objektif yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua orang. Dia mengajukan pertanyaan pada siapa saja yang ditemui dijalan untuk membukakan batin warga Athena kepada kebenaran (yang benar) dan kebaikan (yang baik). Dari perilakunya ini pemerintah Athena menganggap Socrates sebagai penghasut, dan akhirnya dia dihukum mati dengan jalan meminum racun. Sesudah Socrates mennggal, filsafat Yunani terus berkembang dengan Tokohnya Plato (427-347 S.M), salah seorang murid Socrates. Diantara pemikiran Plato yang penting adalah berkaitan dengan pembagian realitas ke dalam dua bagian yaitu realitas/dunia yang hanya terbuka bagi rasio, dan dunia yang terbuka bagi pancaindra, dunia pertama terdiri dari idea-idea, dan dunia ke dua adalah dunia jasmani (pancaindra), dunia ide sifatnya sempurna dan tetap, sedangkan dunia jasmani selalu berubah. Dengan pendapatnya tersebut, menurut Kees Berten (1976), Plato berhasil mendamaikan pendapatnya Herakleitos dengan pendapatnya Permenides, menurut Herakleitos segala sesuatu selalu berubah, ini benar kata Plato, tapi hanya bagi dunia jasmani (pancaindra), sementara menurut Permenides segala sesuatu sama sekali sempurna dan tidak dapat berubah, ini juga benar kata Plato, tapi hanya berlaku pada dunia idea saja. Dalam sejarah filsafat yunani, terdapat seorang filsuf yang sangat legendaris yaitu Aristoteles (384-322 S.M), seorang yang pernah belajar di Akademia Plato di Athena. Setelah Plato meninggal Aristoteles menjadi guru pribadinya Alexander Agung selama dua tahun, sesudah itu dia kembali lagi ke Athena dan mendirikan Lykeion, dia sangat mengagumi pemikiran-pemikiran Plato meskipun dalam filsafat, Aristoteles mengambil jalan yang berbeda (Aristoteles pernah mengatakan-ada juga yang berpendapat bahwa ini bukan ucapan AristotelesAmicus Plato, magis amica veritas’ artinya Plato memang sahabatku, tapi kebenaran lebih akrab bagiku, ungkapan ini terkadang diterjemahkan bebas menjadi Saya mencintai Plato, tapi saya lebih mencintai kebenaran). Aristoteles mengkritik tajam pendapat Plato tentang idea-idea, menurut dia yang umum dan tetap bukanlah dalam dunia idea akan tetapi dalam benda-benda jasmani itu sendiri, untuk itu Aristoteles mengemukakan teori Hilemorfisme (Hyle = Materi, Morphe = bentuk), menurut teori ini, setiap benda jasmani memiliki dua hal yaitu bentuk dan materi, sebagai contoh, sebuah patung pasti memiliki dua hal yaitu materi atau bahan baku patung misalnya kayu atau batu, dan bentuk misalnya bentuk kuda atau bentuk manusia, keduanya tidak mungkin lepas satu sama lain, contoh tersebut hanyalah untuk memudahkan pemahaman, sebab dalam pandangan Aristoteles materi dan bentuk itu merupakan prinsip-prinsip metafisika untuk memperkukuh dimingkinkannya Ilmu pengetahuan atas dasar bentuk dalam setiap benda konkrit. Teori hilemorfisme juga menjadi dasar bagi pandangannya tentang manusia, manusia terdiri dari materi dan bentuk, bentuk adalah jiwa, dan karena bentuk tidak pernah lepas dari materi, maka konsekwensinya adalah bahwa apabila manusia mati, jiwanya (bentuk) juga akan hancur. Disamping pendapat tersebut Aristoteles juga dikenal sebagai Bapak Logika yaitu suatu cara berpikir yang teratur menurut urutan yang tepat atau berdasarkan hubungan sebab akibat. Dia adalah yang pertama kali membentangkan cara berpikir teratur dalam suatu sistem.
Abad Pertengahan, Semenjak meninggalnya Aristoteles, filsafat terus berkembang dan mendapat kedudukan yang tetap penting dalam kehidupan pemikiran manusia meskipun dengan corak dan titik tekan yang berbeda. Periode sejak meninggalnya Aristoteles (atau sesudah meninggalnya Alexander Agung (323 S.M) sampai menjelang lahirnya Agama Kristen oleh Droysen (Ahmad Tafsir. 1992) disebut periode Hellenistik (Hellenisme adalah istilah yang menunjukan kebudayaan gabungan antara budaya Yunani dan Asia Kecil, Siria, Mesopotamia, dan Mesir Kuno). Dalam masa ini Filsafat ditandai antara lain dengan perhatian pada hal yang lebih aplikatif, serta kurang memperhatikan Metafisika, dengan semangat yang Eklektik (mensintesiskan pendapat yang berlawanan) dan bercorak Mistik. Pada masa ini filsafat cenderung kehilangan otonominya, pemikiran filsafat abad pertengahan bercirikan Teosentris (kebenaran berpusat pada wahyu Tuhan), hal ini tidak mengherankan mengingat pada masa ini pengaruh Agama Kristen sangat besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pemikiran. Filsafat abad pertengahan sering juga disebut filsafat scholastik, yakni filsafat yang mempunyai corak semata-mata bersifat keagamaan, dan mengabdi pada teologi. Pada masa ini memang terdapat upaya-upaya para filsuf untuk memadukan antara pemikiran Rasional (terutama pemikiran-pemikiran Aristoteles) dengan Wahyu Tuhan sehingga dapat dipandang sebagai upaya sintesa antara kepercayaan dan akal. Keadaan ini pun terjadi dikalangan umat Islam yang mencoba melihat ajaran Islam dengan sudut pandang Filsafat (rasional), hal ini dimungkinkan mengingat begitu kuatnya pengaruh pemikiran-pemikiran ahli filsafat Yunani/hellenisme dalam dunia pemikiran saat itu, sehingga keyakinan Agama perlu dicarikan landasan filosofisnya agar menjadi suatu keyakinan yang rasional. Pemikiran-pemikiran yang mencoba melihat Agama dari perspektif filosofis terjadi baik di dunia Islam maupun Kristen, sehingga para ahli mengelompokan filsafat skolastik ke dalam filsafat skolastik Islam dan filsafat skolastik Kristen.
Masa Modern, pada masa ini pemikiran filosofis seperti dilahirkan kembali dimana sebelumnya dominasi gereja sangat dominan yang berakibat pada upaya mensinkronkan antara ajaran gereja dengan pemikiran filsafat. Kebangkitan kembali rasio mewarnai zaman modern dengan salah seorang pelopornya adalah Descartes, dia berjasa dalam merehabilitasi, mengotonomisasi kembali rasio yang sebelumnya hanya menjadi budak keimanan. Diantara pemikiran Desacartes (1596-1650) yang penting adalah diktum kesangsian, dengan mengatakan Cogito ergo sum, yang biasa diartikan saya berfikir, maka saya ada. Dengan ungkapan ini posisi rasio/fikiran sebagai sumber pengetahuan menjadi semakin kuat, ajarannya punya pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, segala sesuatu bisa disangsikan tapi subjek yang berfikir menguatkan kepada kepastian. Dalam perkembangnnya argumen Descartes (rasionalisme) mendapat tantangan keras dari para filosof penganut Empirisme seperti David Hume (1711-1776), John Locke (1632-1704). Mereka berpendapat bahwa pengetahuan hanya didapatkan dari pengalaman lewat pengamatan empiris. Pertentangan tersebut terus berlanjut sampai muncul Immanuel Kant (1724-1804) yang berhasil membuat sintesis antara rasionalisme dengan empirisme, Kant juga dianggap sebagai tokoh sentral dalam zaman modern dengan pernyataannya yang terkenal sapere aude(berani berfikir sendiri), pernyataan ini jelas makin mendorong upaya-upaya berfikir manusia tanpa perlu takut terhadap kekangan dari Gereja. Pandangan empirisme semakin kuat pengaruhnya dalam cabang ilmu pengetahuan setelah munculnya pandangan August Comte (1798-1857) tentang Positivisme. Salah satu buah pikirannya yang sangat penting dan berpengaruh adalah tentang tiga tahapan/tingkatan cara berpikir manusia dalam berhadapan dengan alam semesta yaitu : tingkatan Teologi, tingkatan Metafisik, dan tingkatan Positif. Tingkatan Teologi (Etat Theologique). Pada tingkatan ini manusia belum bisa memahami hal-hal yang berkaitan dengan sebab akibat. Segala kejadian dialam semesta merupakan akibat dari suatu perbuatan Tuhan dan manusia hanya bersifat pasrah, dan yang dapat dilakukan adalah memohon pada Tuhan agar dijauhkan dari berbagai bencana. Tahapan ini terdiri dari tiga tahapan lagi yang berevolusi yakni dari tahap animisme, tahap politeisme, sampai dengan tahap monoteisme. Tingkatan Metafisik (Etat Metaphisique). Pada dasarnya tingkatan ini merupakan suatu variasi dari cara berfikir teologis, dimana Tuhan atau Dewa-dewa diganti dengan kekuatan-kekuatan abstrak misalnya dengan istilah kekuatan alam. Dalam tahapan ini manusia mulai menemukan keberanian dan merasa bahwa kekuatan yang menimbulkan bencana dapat dicegah dengan memberikan berbagai sajian-sajian sebagai penolak bala/bencana. Tingkatan Positif (Etat Positive). Pada tahapan ini manusia sudah menemukan pengetahuan yang cukup untuk menguasai alam. Jika pada tahapan pertama manusia selalu dihinggapi rasa khawatir berhadapan dengan alam semesta, pada tahap kedua manusia mencoba mempengaruhi kekuatan yang mengatur alam semesta, maka pada tahapan positif manusia lebih percaya diri, dengan ditemukannya hukum-hukum alam, dengan bekal itu manusia mampu menundukan/mengatur (pernyataan ini mengindikasikan adanya pemisahan antara subyek yang mengetahui dengan obyek yang diketahui) alam serta memanfaatkannya untuk kepentingan manusia, tahapan ini merupakan tahapan dimana manusia dalam hidupnya lebih mengandalkan pada ilmu pengetahuan. Dengan memperhatikan tahapan-tahapan seperti dikemukakan di atas nampak bahwa istilah positivisme mengacu pada tahapan ketiga (tahapan positif/pengetahuan positif) dari pemikiran Comte. Tahapan positif merupakan tahapan tertinggi, ini berarti dua tahapan sebelumnya merupakan tahapan yang rendah dan primitif, oleh karena itu filsafat Positivisme merupakan filsafat yang anti metafisik, hanya fakta-fakta saja yang dapat diterima. Segala sesuatu yang bukan fakta atau gejala (fenomin) tidak mempunyai arti, oleh karena itu yang penting dan punya arti hanya satu yaitu mengetahui (fakta/gejala) agar siap bertindak (savoir pour prevoir). Manusia harus menyelidiki dan mengkaji berbagai gejala yang terjadi beserta hubungan-hubungannya diantara gejala-gejala tersebut agar dapat meramalkan apa yang akan terjadi, Comte menyebut hubungan-hubungan tersebut dengan konsep-konsep dan hukum-hukum yang bersifat positif dalam arti berguna untuk diketahui karena benar-benar nyata bukan bersifat spekulasi seperti dalam metafisika. Pengaruh positivisme yang sangat besar dalam zaman modern sampai sekarang ini, telah mengundang para pemikir untuk mempertanyakannya, kelahiran post modernisme yang narasi awalnya dikemukakan oleh Daniel Bell dalam bukunya The cultural contradiction of capitalism, yang salah satu pokok fikirannya adalah bahwa etika kapitalisme yang menekankan kerja keras, individualitas, dan prestasi telah berubah menjadi hedonis konsumeristis.
Postmodernisme pada dasarnya merupakan pandangan yang tidak/kurang mempercayai narasi-narasi universal serta kesamaan dalam segala hal, faham ini lebih memberikan tempat pada narasi-narasi kecil dan lokal yang berarti lebih menekankan pada keberagaman dalam memaknai kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MODERASI BERAGAMA

Dalam memahami teks-teks agama, seringkali kita dihadapkan pada banyaknya perbedaan-perbedaan yang akhirnya dapat menyebabkan permusuhan dan...

Populer