Berbicara tentang perpustakaan, ingatanku langsung kembali jauh ke kota kelahiranku di kota karang yakni kota Kupang provinsi Nusa Tenggara Timur. Hal menarik yang mengingatkanku yakni ketika bersekolah di SMPN 1 Kota Kupang, kami beberapa kali ditugaskan oleh Guru untuk mengunjungi Perpustakaan daerah guna mencari referensi tentang beberapa tugas dari mata pelajaran sejarah.
Jarak dari sekolah ke perpustakaan daerah sekitar 1,1 Km yang pada waktu itu kami tempuh dengan berjalan kaki bersama teman-teman sekelas. Kenangan ini begitu kuat tertanam di benak saya secara pribadi, hal itu dikarenakan ketika memasuki ruangan perpustakaan daerah itu banyak tersedia buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak kayu.
Di perpustakaan daerah yang kami kunjungi itu tersedia begitu banyak buku menurut saya pada tahun 1997 karena sebagai anak usia remaja yang ingin mengetahui sesuatu begitu mudah ketika memasukinya. Ada satu sudut ideal menurutku yakni tempat dimana tersusun rapi buku-buku cerita anak atau komik tentang cerita kolosal seperti si buta dari gua hantu, wiro sableng, hingga cerita rin tin tin.
Beberapa hari yang lalu saya mendapat informasi dari sosial media yakni Instagram Perpusnas tentang adanya ajang perlombaan opini 40 tahun perpustakaan nasional, hal ini memancing saya untuk ikut serta dalam ajang ini. Kembali pada perpustakaan daerah yang ada di NTT tadi, berdasarkan keputusan presiden nomor 50 yang dikeluarkan pada tanggal 25 desember 1997 (RI, 1997) perpustakaan daerah di ubah menjadi perpustakaan nasional provinsi dan dinaikkan statusnya dari (Eselon III a menjadi Eselon II), sampai dengan tahun 2001.
Selanjutnya sejalan dengan perubahan otonomi daerah maka pada tahun 2001, berdasarkan Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 42 Tahun 2001, tanggal 22 Agustus 2001, tentang pembentukan organisasi dan tata kerja Badan Perpustakaan Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi Badan Perpustakaan Provinsi NTT. Perubahan-perubahan ini sangat diperlukan mengingat kebutuhan pelajar akan referensi yang sangat memadai itu tidak dapat dipungkiri.
Kepala Badan Perpustakaan Daerah NTT Melkhianus Lima di Kupang (Kompas, 2008) mengatakan bahwa jumlah kunjungan pelajar, mahasiswa dan dosen di perpustakaan daerah itu sekitar 700-1200 orang per hari dan ini merupakan kunjungan yang terbesar di Provinsi NTT. Diantara para pengunjung ada yang sudah menjadi anggota perpustakaan dan memiliki kartu anggota tetap, tetapi ada pula yang belum jadi anggota.
Mereka ini diberi kesempatan meminjam buku masing-masing anggota dua judul per hari selama tujuh hari. Jika mereka ingin lebih dari dua buku maka buku berikut hanya dapat dikopi," kata Lima. Mereka yang bukan anggota hanya diperkenankan membaca dan mengkopi tetapi hanya bagian-bagian tertentu dan tidak diperkenankan buku itu dikopi secara keseluruhan.
Selain itu jumlah judul buku di perpustakaan daerah NTT sampai dengan Juni 2008 sebanyak 94.869 terdiri dari 238 084 eksemplar. Jumlah ini terdiri dari buku-buku umum 87.968 judul (216.764 eksemplar) dan deposit (tentang NTT) 6.901 judul (21.320 eksemplar).
Pada tahun 2019 yang lalu perpustakaan provinsi NTT melakukan beberapa inovasi diantaranya dengan melakukan kegiatan pelayanan membaca oleh mobil perpustakaan keliling di area car free day di jalan Eltari Kota Kupang. Hal ini sangat menarik jumlah peminat dan pengunjung.
Kepala Dispusip Tri Heru Setiati, SH, SPi mengatakan, wisata literasi tersebut bertujuan untuk membangun pemikiran, bahwa perpustakaan bukan hanya tempat belajar sepanjang masa. Kali ini, pihaknya membuat inovasi untuk meningkatkan minat baca masyarakat terutama para pelajar, yakni dengan menjadikan perpustakaan tempat berekreasi.
Dia menghimbau agar pemikiran tentang perpustakaan sebagai tempat koleksi buku, bisa diubah sebagai tempat berekreasi yang menarik dan bisa menjadi pusat aktivitas bermanfaat. “Ayo main ke perpus, ada science, literasi, mendongeng, menggambar juga bermain.
Perpustakaan itu seru lho! Tempat bermain sambil belajar ya di sini. Apalagi ada Ibu Ida Susanti, Ayah Salwa dan Teh Elies (pendongeng dan aktifis literasi), membuat suasana belajar semakin asik,” ajak Kadispusip itu. Atas inovasi tersebut, Tri Heru berharap ruang perpustakaan bisa lebih representatif dan memadai untuk berbagai aktivitas belajar masyarakat, melalui media literasi.
Berdasarkan paparan inovasi baik yang dilakukan oleh perpustakaan provinsi NTT dan juga inovasi yang dilakukan oleh perpustakaan daerah bandung dapat kita ketahui bahwa perpustakaan senantiasa berusaha untuk menyesuaikan dengan era.
Dimana pada saat era milenial seperti sekarang ini peran perpustakaan masih sangat penting dan dibutuhkan untuk semua kalangan baik dari anak-anak hingga orang dewasa. Terakhir inovasi yang saya ketahui terkait prosedur mendaftar menjadi anggota perpustakaan nasional yang begitu mudahnya cukup dengan mengakses lewat link https://keanggotaan.perpusnas.go.id/daftar.aspx menunjukkan bahwa perpustakaan nasional telah jauh berubah.
Informasi ini saya peroleh ketika berkuliah dengan salah satu dosen yang telah mencoba dan sukses untuk mendaftarnya. Manfaat lain dari memiliki kartu anggota perpustakaan nasional ini adalah kita dapat mengakses untuk mendowload buku-buku ilmiah yang dapat dijadikan referensi untuk penulisan tugas akhir perkuliahan dalam bentuk soft file pdf maupun word doc. Selain itu ada juga banyak artikel-artikel penelitian yang memiliki indeks reputasi yang baik.
Perjalanan perpustakaan nasional Indonesia telah memasuki usia ke 40 tahun dimana ini merupakan suatu usia yang boleh dikatakan sudah cukup banyak dengan perubahan-perubahan yang juga dilakukan yang bisa kita lihat hasilnya sekarang ini.
Ketika saya ingin coba kunjungi perpustakaan daerah di Jogjakarta antrian untuk memasukinya lumayan panjang hal ini menunjukkan bahwa perpustakaan telah sukses menyesuaikan dirinya dengan para pengunjung. Yang notabene para pengunjung ini berasal dari para anak-anak hingga usia dewasa dimana mereka sangat menggandrungi dunia gadget.
Salah satu langkah menarik yang dilakukan oleh perpustakaan nasional adalah dengan menyiapkan tempat charger di banyak tempat untuk para pengguna gadget, laptop dan alat elektronik lainnya serta yang utama adalah kebebasan dalam mengakses internet dengan menyediakan wifi gratis.
Hal ini membuat para pengunjung perpustakaan nasional baik dari kalangan anak-anak hingga dewasa sangat menikmati, enjoy bahkan betah untuk berlama-lama berada di perpustakaan. Selain itu juga terdapat beberapa sarana umum diantaranya toilet, ruangan untuk beribadah seperti musholla dan tempat-tempat duduk untuk pengunjung yang dimodifikasi dengan tampilan yang menarik.
Boleh saya simpulkan bahwa meskipun dunia telah banyak berubah dari era dimana tulang belulang digunakan sebagai alat tulis, kemudian paparus, pelepah daun, hingga kertas dan sekarang telah menjadi elektronik, perpustakaan akan senantiasa eksis.
Selamat ulang tahun yang ke 40 perpustakaan nasional Ku semoga semakin Berjaya ke depannya dan selalu berinovasi dalam mengemban tugas untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Referensi
Kompas. (2008). Perpustakaan Daerah Provinsi NTT Hanya Dikunjungi Pelajar. Retrieved from https://nasional.kompas.com/read/2008/09/12/07320872/perpustakaan.daerah.provinsi
RI, K. N. 5. (1997). Kepres RI No. 50. Retrieved from http://ppidarpus.ppid.nttprov.go.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar