Berikut merupakan kisah perjuangan seorang ibu yang berasal dari daerah Kabupaten Alor Provinsi Nusa tenggara timur. Beliau ini sejak pertama kali hijrah ke kota kupang dengan alasan mengikuti sang suami yang bekerja disana, berkeinginan untuk ikut berusaha membantu sang suami dengan cara berjualan kue yang merupakan hobinya sejak masih remaja.
Dari hasil pernikahannya ini beliau dan suami dianugerahi 4 orang putera. Meskipun sang suami adalah seorang Pegawai Negeri Sipil namun dikala itu penghasilan yang diperoleh belum dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga beliau semakin giat dalam mengembangkan usaha kuenya tersebut. Dimulai dari memperkerjakan beberapa orang yang berasal dari kampung atau wilayah kabupaten TTS dengan bermodalkan semacam nampan yang diisi beberapa jenis kue diantaranya kue bajongko, roti bale gula, roti kukus, dan donat untuk dibawa keliling.
Pada tahun 1996 putranya yang pertama melanjutkan studi ke perguruan tinggi di kota Makassar atau hijrah ke luar daerah sehingga pengeluaran yang dibutuhkan pun meningkat. Di kota Makassar itu sang putera harus ngekos, juga butuh biaya hidup untuk keseharian serta utamanya biaya studi sehingga sang ibu pun lebih giat lagi dalam berusaha agar segala kebutuhan rumah tangganya dapat tercukupi.
Usaha kuenya pun ikut berkembang dengan adanya inovasi baru yakni dagangannya sudah tidak lagi gunakan nampan untuk dibawa keliling melainkan menggunakan gerobak dorong yang oleh pemerintah kota Kupang difasilitasi di sebuah tempat tepatnya di depan kantor kabupaten Kupang desa Airmata sehingga nama familiarnya yakni JAM yang merupakan akronim dari Jajanan Airmata. Yang disana tersedia aneka ragam jajanan mulai dari es, kue hingga camilan-camilan kecil lainnya.
Dari usaha ini lumayan berjalan baik sehingga pada 3 tahun berikutnya sang putera kedua pun menyusul sang kakak untuk melanjutkan studi ke kota Makassar. Sama seperti sang kakak kebutuhan awal untuk perkuliahan pun bisa dipenuhi oleh sang ibu beserta suami. Singkat cerita pada tahun 2002 sang putera pertama berhasil menyelesaikan studi strata satunya di kota Makassar dan diajak pulang oleh sang ayah untuk bekerja di kota kelahiran.
Pada tahun yang sama sang putera ketiga pun akan melanjutkan studi ke kota malang yang berada di jawa timur. Awal mula studi sang putera ketiga pada prodi teknik arsitektur di salah satu perguruan tinggi swasta yang berada di kota malang sehingga biaya perkuliahan yang dibutuhkan tidak sedikit ditambah lagi dengan harus “ngekos” serta biaya hidup untuk keseharian.
Setelah 2 tahun perkuliahan sang putera ketiga, terjadi komunikasi antara sang anak dengan kedua orang tua bahwa keinginan studi di prodi teknik arsitektur ini tidak dapat dilanjutkan dan ada keinginan untuk mutasi atau pindah ke prodi pendidikan matematika. Karena demokratisasi yang ditanamkan dalam keluarga ini sehingga banyak keputusan yang diambil berdasarkan musyawarah. Dari hasil musyawarah itu sang putera dibolehkan untuk memilih prodi yang diinginkan dan kembali studi di prodi pendidikan matematika di Universitas Islam Malang.
Pada tahun 2007 tepatnya tanggal 17 bulan april ada kabar duka tentang berpulangnya ke Rahmatullah sang ayahanda dari ibu S ini dikampung halaman sehingga sang ibu meminta ijin ke suami untuk takziah ke sana meskipun pada kesempatan yang sama sang suami juga sedang dirawat di rumah sakit umum daerah kota kupang. Dengan ijin dan restu dari sang suami si Ibu S ini berangkat ke kota kelahirannya untuk mentakziahi sang ayahanda.
Setelah acara penguburan selesai sang ibu pun bergegas menyiapkan diri untuk kembali ke kota kupang dikarenakan sang suami juga membutuhkan pendampingan karena sedang berada di rumah sakit. Berselang seminggu kemudian tepatnya tanggal 24 april tahun 2007 sang suami dipanggil ke haribaan Allah Ta’ala. Sang ibu sangat terpukul dikarenakan kepergian kedua orang yang dikasihinya dalam waktu yang berdekatan sedangkan anak-anaknya belum mapan secara ekonomi dan juga masih ada yang sedang menempuh pendidikan di kota Malang.
Singkat cerita pada malam ketiga setelah kematian sang ayah maka dikumpulkanlah beberapa keluarga untuk di sampaikan beberapa hal diantaranya untuk puteranya yang sedang menempuh studi di kota Malang agar di minta berhenti kuliah dan membantu sang ibu dengan lansung mencari kerja dengan modal ijazah SMA yang dimiliki. Tetapi yang mengangetkan yaitu jawaban dari sang ibu bahwa ”meskipun saya harus banting tulang bahkan harus berhutang sekalipun sang anak harus tetap melanjutkan studi karena itu merupakan salah satu harapan juga dari sang ayah”.
Sembari menambahkan pesan dari sang ayah “harta yang banyak tidak bisa kami wariskan kepada kalian, kami hanya bisa meninggalkan kalian semangat untuk senantiasa mencari ilmu dengan jalan bersekolah atau studi karena itu akan awet dan berguna hingga kapanpun dan dimanapun”.
Singkat cerita pada tahun 2009 bulan mei sang putera yang sedang menempuh studi di kota dingin Malang pun dapat menyelesaikannya dan berwisuda sehingga sang ibu ikut hadir untuk mendampinginya. Pada awal kedatangan sang putera kembali ke kota kupang dia ikut membantu sang ibu untuk antar & jemput serta ikut menunggui sang ibu yang tempat berjualannya pindah ke pasar Oeba. Sembari bekerja sebagai guru honorer di beberapa sekolah swasta di kota kupang.
Pada bulan oktober tahun yang sama ada perekrutan tenaga CPNS yang diadakan oleh beberapa instansi baik daerah maupun pusat. Alhamdulillah kedua putera dari sang ibu pun lulus dan menjadi Abdi Negara seperti sang ayah dimana putera pertama menjadi PNS di Pemprov NTT dan sang adik menjadi PNS di Kementerian Agama.
Ada pertanyaan unik dari beberapa keluarga dan tetangga sang ibu terkait lulusnya kedua putera beliau untuk menjadi CPNS, yakni berapa biaya yang dikeluarkan untuk menjadikan kedua anak beliau lulus CPNSan pada tahun yang sama?, oleh sang ibu dijawab dengan senyuman sembari mengklarifikasinya dengan kalimat “untuk makan saja kami harus berusaha keras masa membayar orang lagi, beliau menimpali dengan ucapan Alhamdulillah jika sudah rejeki insyaAllah tidak akan tertukar”.
Setelah kelulusan CPNSan kedua putera beliau, sang ibu tetap berjualan kue, yang kadang oleh sebagian tetangganya dipertanyakan terkait aktivitas kesehariannya yang harus melakukan hal itu dimana beliau untuk membuat beberapa jenis kue bahkan terkadang ada juga nasi kuning, es buah yang membuat banyak dari mereka terheran-heran karena selama ini beliau mengerjakan itu semua sendiri. Dimana beliau sudah harus bangun pukul 4.00 pagi dan bekerja untuk menyiapkan sebagian kue yang belum jadi dilanjutkan berjualan yang Alhamdulillah tidak seberapa lama kue dagangannya sudah habis karena sangat dinanti oleh para pelanggannya.
Seselesainya beliau berjualan sekitar pukul 10-12.00 siang beliau istirahat sembari melakukan sholat dhuhur beliau langsung bersiap diri untuk pergi ke pasar guna membeli bahan-bahan untuk membuat kue keesokan harinya. Biasanya selepas menunaikan sholat maghrib beliau mulai membuat adonan Roti dan lain-lain yang dilanjutkan dengan menggoreng dan sebagian ada yang dibakarnya dengan oven. Yang terkadang detakan jam menunjukkan pukul 01-02 dini hari baru beliau menyelesaikan proses pembuatan kue-kue tersebut.
Alhamdulillah kerja keras beliau berhasil menjadikan anak-anaknya menjadi orang yang sukses sesuai dengan harapan sang ibu beserta almarhum suaminya. Singkat cerita Pada tahun 2017 yang lalu beliau berkesempatan untuk melakukan ibadah haji ke tanah suci Makkah Al Mukaromah, dan hingga kini beliau tetap memilih untuk berjualan kue meskipun kuantitas kue yang dibuat pun sudah berkurang yang sebenarnya oleh anak-anaknya beliau diminta untuk istirahat tetapi kebiasaan beliau untuk bekerja sangat keras sehingga beliau tetap memilih untuk melakukan itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar