Minggu, 11 Oktober 2020

PEMBELAJARAN DARING BAGI SISWA DI DAERAH KEPULAUAN

Berawal pandemik covid 19 yang muncul di kisaran akhir tahun 2019 lalu mengakibatkan perubahan drastis pada hampir semua lini kehidupan. Hal itu tidak hanya terjadi pada Negara yang pertama kali menjadi tempat ditemukannya virus tersebut, melainkan ke seluruh pelosok muka bumi. Indonesia tercinta pun mengalaminya, dalam semua aspek pemerintahan baik sosial, politik, hukum, pertahanan keamanan dan terutama pendidikan. 

Berfokus pada imbasnya pandemik covid 19 ini dalam dunia pendidikan bisa dilihat dari pesatnya penerapan istilah daring yang merupakan akronim (dalam jaringan) di semua akses kebijakan. Beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia seperti UGM, UI dan lain-lain melakukan pembelajaran, KKN hingga wisuda dengan metode daring. Hal serupa juga berlaku pada lembaga pendidikan baik jenjang menengah dan dasar. Sebenarnya pembelajaran daring pada lembaga pendidikan tinggi sudah menjadi hal biasa akan tetapi untuk jenjang menengah dan dasar yang menjadi sorotan tajam, dikarenakan selama lebih setengah abad telah berlalu pembelajaran yang dilakukan masih pada prinsip tatap muka atau luring (luar jaringan). 

Berbicara tentang pendidikan pada jenjang menengah dan dasar, pikiran kita langsung diarahkan ke sebuah lembaga yang bernama sekolah/madrasah dengan memiliki batasan wilayah yang di dalamnya terdapat sekat-sekat atau biasa disebut ruang kelas. Sebenarnya hal itu bukanlah menjadi suatu problem utama melainkan mindset bahwa belajar harus dilakukan pada suatu tempat dengan batasan waktu tertentu, hal ini yang menjadi kendala ketika ingin menerapkan suatu metode pembelajaran darurat seperti saat pandemik sekarang ini. Padahal menurut informasi dari Badan Informasi Geospasial dalam tulisan (Evita, 2020) dinyatakan bahwa luas wilayah Indonesia untuk daratan ialah 1.922.570 km2 dan perairan 3.257.483 km2 yang bermakna bahwa 63% wilayah Indonesia adalah lautan. Dengan wilayah berbentuk kepulauan, Indonesia punya lautan yang lebih luas daripada daratan. Maka, Indonesia punya iklim laut yang lembap, kelembapan udara tinggi, amplitudo rendah, dan suhu yang tidak begitu berbeda antara siang dan malam. 

Dilain sisi terdapat pula kendala terkait bentuk kepulauan yang menjadi identitas Negara Indonesia tercinta yakni kesenjangan pembangunan antara daerah dekat dan yang berjarak dari pusat pemerintahan. Padahal jika kita melihat jauh ke belakang para pendiri bangsa mengharapkan adanya keadilan bagi seluruh warga Negara dalam mengakses segala informasi guna mendukung perkembangan pengetahuannya. Sudah banyak hal yang dilakukan oleh baik pemerintah pusat maupun daerah untuk menjauhkan disparitas itu seperti kebijakan untuk melonggarkan penggunaan dana BOS/BOM guna mendukung ketercapaian pembelajaran jarak jauh atau daring, juga pengadaan webinar yang meluas untuk para tenaga pendidik dalam rangka menyikapi perubahan fokus pembelajaran dari berbasis tatap muka (luring) ke dalam jaringan. 

Banyak hal patut untuk diapresiasi dari berbagai langkah strategis yang telah dilakukan oleh pemerintah. Akan tetapi fakta di lapangan banyak siswa yang merasa jenuh karena form merdeka belajar oleh ‘mas menteri’ direspon kurang tepat oleh sebagian kalangan praktisi pendidikan. Banyak tenaga pendidik hanya memaknai merdeka belajar dengan inovasi dalam membuat video pembelajaran untuk di distribusikan ke para siswa dengan mengabaikan background ekonomi dan sosial sehingga menjadi beban tidak hanya bagi siswa tetapi juga para orang tua. Melihat problem terkini tadi maka jargon ‘daring adalah pembelajaran masa depan’ perlu direnungkan kembali apakah bentuk Negara kepulauan seperti kita ini sudah layak menerapkannya?. Akronim daring yang tadinya adalah dalam jaringan bisa dimodifikasi agar sesuai dengan bentuk Negara kita yakni daring (dengan jaring). 

Jaring bagi seorang nelayan adalah senjata yang digunakan untuk menjaring ikan atau alat yang digunakan untuk melakukan tangkapan hewan dilautan. 


Filosofi jaring ini bisa dimaknai dengan ‘integrasi’ yakni pembauran sehingga bisa menjadi suatu kesatuan. Siswa dapat belajar bersama dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil berbasis daerah untuk mendukung pembelajaran serta menyelesaikan sebuah proyek yang terintegrasi untuk beberapa mata pelajaran, hal ini bisa menjadi alternatif bagi pendidikan di daerah kepulauan ini. Selanjutnya mengenai integrasi dalam pembelajaran terdapat sebuah pendekatan yang sedang menjadi tren beberapa tahun terakhir di USA yakni STEM. 

Berbicara tentang STEM ada sebuah artikel menarik dari (Utami, Septiyanto, Wibowo, Suryana, & Permanasari, 2017) yang menyatakan bahwa tujuan STEM adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam ilmu pengetahuan dan berinovasi pada produk teknologi agar dapat bersaing secara global. Sejalan dengan hal itu Kennedy Dan Odell dalam (Kelley & Knowles, 2016) menunjukkan bahwa pendidikan STEM yang berkualitas tinggi harus mencakup (a) integrasi teknologi dan teknik; (b) mengedepankan penyelidikan ilmiah dan desain teknik; (c) pendekatan kolaboratif, menghubungkan siswa dan pendidik dengan STEM; (d) menyediakan sudut pandang global dan multi perspektif; (e) menggabungkan strategi seperti pembelajaran berbasis proyek, menyediakan pengalaman belajar formal dan informal; serta (f) memasukkan teknologi yang sesuai untuk meningkatkan pembelajaran. Berdasarkan banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran STEM dengan menghadirkan animasi dalam pembelajaran berimbas meningkatnya pengetahuan konsep dari para peserta didik. 

Sejalan dengan hal itu (Morales, 2015) menggaris bawahi bahwa penggunaan budaya lokal, tradisi, praktik, kepercayaan, dan bahasa asli dapat membantu meningkatkan sikap siswa terhadap sains. Demikian beberapa paparan terkait pembelajaran daring bagi siswa di daerah kepulauan dimana sangat penting untuk mengedepankan kearifan lokal daerah sekitar guna mendukung terselenggaranya pendidikan yang kontekstual sehingga menurut (Minggele, 2020, p. 78) siswa dengan motivasi yang berorientasi pada sasaran pembelajaran (learning goal) dan yang berorientasi pada sasaran kinerja (performance goal) dapat terakomodir sasaran pembelajarannya. 

Referensi 

Evita. (2020). Luas Wilayah Indonesia. Retrieved September 10, 2020, from https://www.quipper.com/id/blog/mapel/geografi/luas-wilayah-indonesia/

Kelley, T. R., & Knowles, J. G. (2016). A conceptual framework for integrated STEM education. International Journal of STEM Education. https://doi.org/10.1186/s40594-016-0046-z 

Minggele, D. (2020). Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dengan Pembelajaran Kooperatife Tipe STAD. Bandung: CV. Amerta Media. 

Morales, M. P. E. (2015). Influence of culture and language sensitive physics on science attitude enhancement. Cultural Studies of Science Education, 10(4), 951–984. https://doi.org/10.1007/s11422-015-9669-5 

Utami, I. S., Septiyanto, R. F., Wibowo, F. C., Suryana, A., & Permanasari, A. (2017). Pengembangan STEM A Berbasis Kearifan Lokal Dalam Pembelajaran Fisika. Ilmiah Pendidikan Fisika Al Biruni, 06(April), 23–34. https://doi.org/10.24042/jpifalbiruni.v6i1.1581

Rabu, 23 September 2020

PERJUANGAN IBU PENJUAL KUE

Berikut merupakan kisah perjuangan seorang ibu yang berasal dari daerah Kabupaten Alor Provinsi Nusa tenggara timur. Beliau ini sejak pertama kali hijrah ke kota kupang dengan alasan mengikuti sang suami yang bekerja disana, berkeinginan untuk ikut berusaha membantu sang suami dengan cara berjualan kue yang merupakan hobinya sejak masih remaja.

Dari hasil pernikahannya ini beliau dan suami dianugerahi 4 orang putera. Meskipun sang suami adalah seorang Pegawai Negeri Sipil namun dikala itu penghasilan yang diperoleh belum dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga beliau semakin giat dalam mengembangkan usaha kuenya tersebut. Dimulai dari memperkerjakan beberapa orang yang berasal dari kampung atau wilayah kabupaten TTS dengan bermodalkan semacam nampan yang diisi beberapa jenis kue diantaranya kue bajongko, roti bale gula, roti kukus, dan donat untuk dibawa keliling. 

Pada tahun 1996 putranya yang pertama melanjutkan studi ke perguruan tinggi di kota Makassar atau hijrah ke luar daerah sehingga pengeluaran yang dibutuhkan pun meningkat. Di kota Makassar itu sang putera harus ngekos, juga butuh biaya hidup untuk keseharian serta utamanya biaya studi sehingga sang ibu pun lebih giat lagi dalam berusaha agar segala kebutuhan rumah tangganya dapat tercukupi. 

Usaha kuenya pun ikut berkembang dengan adanya inovasi baru yakni dagangannya sudah tidak lagi gunakan nampan untuk dibawa keliling melainkan menggunakan gerobak dorong yang oleh pemerintah kota Kupang difasilitasi di sebuah tempat tepatnya di depan kantor kabupaten Kupang desa Airmata sehingga nama familiarnya yakni JAM yang merupakan akronim dari Jajanan Airmata. Yang disana tersedia aneka ragam jajanan mulai dari es, kue hingga camilan-camilan kecil lainnya.


Dari usaha ini lumayan berjalan baik sehingga pada 3 tahun berikutnya sang putera kedua pun menyusul sang kakak untuk melanjutkan studi ke kota Makassar. Sama seperti sang kakak kebutuhan awal untuk perkuliahan pun bisa dipenuhi oleh sang ibu beserta suami. Singkat cerita pada tahun 2002 sang putera pertama berhasil menyelesaikan studi strata satunya di kota Makassar dan diajak pulang oleh sang ayah untuk bekerja di kota kelahiran. 

Pada tahun yang sama sang putera ketiga pun akan melanjutkan studi ke kota malang yang berada di jawa timur. Awal mula studi sang putera ketiga pada prodi teknik arsitektur di salah satu perguruan tinggi swasta yang berada di kota malang sehingga biaya perkuliahan yang dibutuhkan tidak sedikit ditambah lagi dengan harus “ngekos” serta biaya hidup untuk keseharian. 

Setelah 2 tahun perkuliahan sang putera ketiga, terjadi komunikasi antara sang anak dengan kedua orang tua bahwa keinginan studi di prodi teknik arsitektur ini tidak dapat dilanjutkan dan ada keinginan untuk mutasi atau pindah ke prodi pendidikan matematika. Karena demokratisasi yang ditanamkan dalam keluarga ini sehingga banyak keputusan yang diambil berdasarkan musyawarah. Dari hasil musyawarah itu sang putera dibolehkan untuk memilih prodi yang diinginkan dan kembali studi di prodi pendidikan matematika di Universitas Islam Malang.

Pada tahun 2007 tepatnya tanggal 17 bulan april ada kabar duka tentang berpulangnya ke Rahmatullah sang ayahanda dari ibu S ini dikampung halaman sehingga sang ibu meminta ijin ke suami untuk takziah ke sana meskipun pada kesempatan yang sama sang suami juga sedang dirawat di rumah sakit umum daerah kota kupang. Dengan ijin dan restu dari sang suami si Ibu S ini berangkat ke kota kelahirannya untuk mentakziahi sang ayahanda. 

Setelah acara penguburan selesai sang ibu pun bergegas menyiapkan diri untuk kembali ke kota kupang dikarenakan sang suami juga membutuhkan pendampingan karena sedang berada di rumah sakit. Berselang seminggu kemudian tepatnya tanggal 24 april tahun 2007 sang suami dipanggil ke haribaan Allah Ta’ala. Sang ibu sangat terpukul dikarenakan kepergian kedua orang yang dikasihinya dalam waktu yang berdekatan sedangkan anak-anaknya belum mapan secara ekonomi dan juga masih ada yang sedang menempuh pendidikan di kota Malang.

Singkat cerita pada malam ketiga setelah kematian sang ayah maka dikumpulkanlah beberapa keluarga untuk di sampaikan beberapa hal diantaranya untuk puteranya yang sedang menempuh studi di kota Malang agar di minta berhenti kuliah dan membantu sang ibu dengan lansung mencari kerja dengan modal ijazah SMA yang dimiliki. Tetapi yang mengangetkan yaitu jawaban dari sang ibu bahwa ”meskipun saya harus banting tulang bahkan harus berhutang sekalipun sang anak harus tetap melanjutkan studi karena itu merupakan salah satu harapan juga dari sang ayah”.

Sembari menambahkan pesan dari sang ayah “harta yang banyak tidak bisa kami wariskan kepada kalian, kami hanya bisa meninggalkan kalian semangat untuk senantiasa mencari ilmu dengan jalan bersekolah atau studi karena itu akan awet dan berguna hingga kapanpun dan dimanapun”. 

Singkat cerita pada tahun 2009 bulan mei sang putera yang sedang menempuh studi di kota dingin Malang pun dapat menyelesaikannya dan berwisuda sehingga sang ibu ikut hadir untuk mendampinginya. Pada awal kedatangan sang putera kembali ke kota kupang dia ikut membantu sang ibu untuk antar & jemput serta ikut menunggui sang ibu yang tempat berjualannya pindah ke pasar Oeba. Sembari bekerja sebagai guru honorer di beberapa sekolah swasta di kota kupang. 

Pada bulan oktober tahun yang sama ada perekrutan tenaga CPNS yang diadakan oleh beberapa instansi baik daerah maupun pusat. Alhamdulillah kedua putera dari sang ibu pun lulus dan menjadi Abdi Negara seperti sang ayah dimana putera pertama menjadi PNS di Pemprov NTT dan sang adik menjadi PNS di Kementerian Agama.

Ada pertanyaan unik dari beberapa keluarga dan tetangga sang ibu terkait lulusnya kedua putera beliau untuk menjadi CPNS, yakni berapa biaya yang dikeluarkan untuk menjadikan kedua anak beliau lulus CPNSan pada tahun yang sama?, oleh sang ibu dijawab dengan senyuman sembari mengklarifikasinya dengan kalimat “untuk makan saja kami harus berusaha keras masa membayar orang lagi, beliau menimpali dengan ucapan Alhamdulillah jika sudah rejeki insyaAllah tidak akan tertukar”.

Setelah kelulusan CPNSan kedua putera beliau, sang ibu tetap berjualan kue, yang kadang oleh sebagian tetangganya dipertanyakan terkait aktivitas kesehariannya yang harus melakukan hal itu dimana beliau untuk membuat beberapa jenis kue bahkan terkadang ada juga nasi kuning, es buah yang membuat banyak dari mereka terheran-heran karena selama ini beliau mengerjakan itu semua sendiri. Dimana beliau sudah harus bangun pukul 4.00 pagi dan bekerja untuk menyiapkan sebagian kue yang belum jadi dilanjutkan berjualan yang Alhamdulillah tidak seberapa lama kue dagangannya sudah habis karena sangat dinanti oleh para pelanggannya. 

Seselesainya beliau berjualan sekitar pukul 10-12.00 siang beliau istirahat sembari melakukan sholat dhuhur beliau langsung bersiap diri untuk pergi ke pasar guna membeli bahan-bahan untuk membuat kue keesokan harinya. Biasanya selepas menunaikan sholat maghrib beliau mulai membuat adonan Roti dan lain-lain yang dilanjutkan dengan menggoreng dan sebagian ada yang dibakarnya dengan oven. Yang terkadang detakan jam menunjukkan pukul 01-02 dini hari baru beliau menyelesaikan proses pembuatan kue-kue tersebut. 

Alhamdulillah kerja keras beliau berhasil menjadikan anak-anaknya menjadi orang yang sukses sesuai dengan harapan sang ibu beserta almarhum suaminya. Singkat cerita Pada tahun 2017 yang lalu beliau berkesempatan untuk melakukan ibadah haji ke tanah suci Makkah Al Mukaromah, dan hingga kini beliau tetap memilih untuk berjualan kue meskipun kuantitas kue yang dibuat pun sudah berkurang yang sebenarnya oleh anak-anaknya beliau diminta untuk istirahat tetapi kebiasaan beliau untuk bekerja sangat keras sehingga beliau tetap memilih untuk melakukan itu.

Selasa, 11 Agustus 2020

BERMAIN BADMINTON BERSAMA KELUARGA

Oleh Arisda H R Minggele

Saat aku bersama bapak beli mainan ditoko aku lihat mainan badminton aku langsung tertarik untuk membelinya, aku bilang sama bapak ‘bapak enduk beli mainan badminton ini ya’, bapak bilang ‘enduk mau mainan yang itu? ‘iya pak enduk suka yang itu’.’oke nduk, ambil aja  nduk ’. akhirnya aku ambil  mainan itu. Aku senang sekali dapat mainan itu, sampe rumah aku langsung main bersama bapak. Sayangnya, aku kalah melawan bapak dalam pertandingan badminton. Setelah bapak capek aku menantang ibuku buat tanding badminton 3set. Dipertanding ini set pertama di menangakan oleh ibuk dan set kedua aku yang menang set ke tiga ibuk yang menang.

Pada pagi hari aku mengajak kak salma dan kak tika bermain badminton. Kita bermain sangat seru sekali, tiba-tiba kak hamdan datang buat menantang aku sama kak tika. Aku pake raket mainan dan kak hamdan juga pake raket mainan tapi kak tika pake raket betulan, dan koknya pake kok mainan.dan saat itu aku keluar untuk mengambil air minum di dalam rumah,saat aku keluar kak hamdan dan kak tika bermain badminton sangat sengit aku pun hanya menonton dengan kak salma tiba-tiba kak hamdan langsung semes dan saat itu pun raketku mainanku langsung rusak dan jebol aku pun sangat kecewa dan sedih kak hamdan langsung minta maaf kepadaku aku pun memaaf kanya. Saat itu pun aku tidak lagi bermain badminton malam hari pun tiba aku melihat raket betulan dirumah kakakku.

Akupun meminta raket kepada ibuk ku. Iya besok ya nduk. Keesokan harinya jam 09.30 sesuai janji ibuku aku dibelikan raket warna merah, hijau dan 2 kok, setelah azan dzuhur saya diajak ibuk untuk sholat setelah sholat saya menantang kak salma untuk badminton, lalu kak tika datang dan langsung mengajari ku bermain badminton. Lalu kak hamdan datang dan menantang ku bermain badminton aku hampir menang tapi aku dipanggil oleh ibuku untuk makan siang jam 13.30, aku langsung tidur dari jam 14.00 sampai jam 15.30. Aku pun bangun dan langsung sholat ashar, aku mendengar suara kak tika, kak hamdan, dan kak salma bermain bandminton bertiga aku mengambil raket dan langsung mengikuti mereka ke halaman rumah. Setelah itu kak tika dan kak salma terkejut melihat aku mengikuti mereka ke halaman rumah. Demikian cerita keseharianku dalam mengisi liburan sekolah saat pandemic covid-19 ini.

 

Senin, 10 Agustus 2020

PERPUSTAKAANKU

Berbicara tentang perpustakaan, ingatanku langsung kembali jauh ke kota kelahiranku di kota karang yakni kota Kupang provinsi Nusa Tenggara Timur. Hal menarik yang mengingatkanku yakni ketika bersekolah di SMPN 1 Kota Kupang, kami beberapa kali ditugaskan oleh Guru untuk mengunjungi Perpustakaan daerah guna mencari referensi tentang beberapa tugas dari mata pelajaran sejarah.

Jarak dari sekolah ke perpustakaan daerah sekitar 1,1 Km yang pada waktu itu kami tempuh dengan berjalan kaki bersama teman-teman sekelas. Kenangan ini begitu kuat tertanam di benak saya secara pribadi, hal itu dikarenakan ketika memasuki ruangan perpustakaan daerah itu banyak tersedia buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak kayu.

Di perpustakaan daerah yang kami kunjungi itu tersedia begitu banyak buku menurut saya pada tahun 1997 karena sebagai anak usia remaja yang ingin mengetahui sesuatu begitu mudah ketika memasukinya. Ada satu sudut ideal menurutku yakni tempat dimana tersusun rapi buku-buku cerita anak atau komik tentang cerita kolosal seperti si buta dari gua hantu, wiro sableng, hingga cerita rin tin tin.

Beberapa hari yang lalu saya mendapat informasi dari sosial media yakni Instagram Perpusnas tentang adanya ajang perlombaan opini 40 tahun perpustakaan nasional, hal ini memancing saya untuk ikut serta dalam ajang ini. Kembali pada perpustakaan daerah yang ada di NTT tadi, berdasarkan keputusan presiden nomor 50 yang dikeluarkan pada tanggal 25 desember 1997 (RI, 1997) perpustakaan daerah di ubah menjadi perpustakaan nasional provinsi dan dinaikkan statusnya dari (Eselon III a menjadi Eselon II), sampai dengan tahun 2001.

Selanjutnya sejalan dengan perubahan otonomi daerah maka pada tahun 2001, berdasarkan Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 42 Tahun 2001, tanggal 22 Agustus 2001, tentang pembentukan organisasi dan tata kerja Badan Perpustakaan Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi Badan Perpustakaan Provinsi NTT. Perubahan-perubahan ini sangat diperlukan mengingat kebutuhan pelajar akan referensi yang sangat memadai itu tidak dapat dipungkiri.

Kepala Badan Perpustakaan Daerah NTT Melkhianus Lima di Kupang (Kompas, 2008) mengatakan bahwa jumlah kunjungan pelajar, mahasiswa dan dosen di perpustakaan daerah itu sekitar 700-1200 orang per hari dan ini merupakan kunjungan yang terbesar di Provinsi NTT. Diantara para pengunjung ada yang sudah menjadi anggota perpustakaan dan memiliki kartu anggota tetap, tetapi ada pula yang belum jadi anggota.

Mereka ini diberi kesempatan meminjam buku masing-masing anggota dua judul per hari selama tujuh hari. Jika mereka ingin lebih dari dua buku maka buku berikut hanya dapat dikopi," kata Lima. Mereka yang bukan anggota hanya diperkenankan membaca dan mengkopi tetapi hanya bagian-bagian tertentu dan tidak diperkenankan buku itu dikopi secara keseluruhan.

Selain itu jumlah judul buku di perpustakaan daerah NTT sampai dengan Juni 2008 sebanyak 94.869 terdiri dari 238 084 eksemplar. Jumlah ini terdiri dari buku-buku umum 87.968 judul (216.764 eksemplar) dan deposit (tentang NTT) 6.901 judul (21.320 eksemplar).

Pada tahun 2019 yang lalu perpustakaan provinsi NTT melakukan beberapa inovasi diantaranya dengan melakukan kegiatan pelayanan membaca oleh mobil perpustakaan keliling di area car free day di jalan Eltari Kota Kupang. Hal ini sangat menarik jumlah peminat dan pengunjung.

     Kepala Dispusip Tri Heru Setiati, SH, SPi mengatakan, wisata literasi tersebut bertujuan untuk membangun pemikiran, bahwa perpustakaan bukan hanya tempat belajar sepanjang masa. Kali ini, pihaknya membuat inovasi untuk meningkatkan minat baca masyarakat terutama para pelajar, yakni dengan menjadikan perpustakaan tempat berekreasi.

Dia menghimbau agar pemikiran tentang perpustakaan sebagai tempat koleksi buku, bisa diubah sebagai tempat berekreasi yang menarik dan bisa menjadi pusat aktivitas bermanfaat. “Ayo main ke perpus, ada science, literasi, mendongeng, menggambar juga bermain.

Perpustakaan itu seru lho! Tempat bermain sambil belajar ya di sini. Apalagi ada Ibu Ida Susanti, Ayah Salwa dan Teh Elies (pendongeng dan aktifis literasi), membuat suasana belajar semakin asik,” ajak Kadispusip itu. Atas inovasi tersebut, Tri Heru berharap ruang perpustakaan bisa lebih representatif dan memadai untuk berbagai aktivitas belajar masyarakat, melalui media literasi.

Berdasarkan paparan inovasi baik yang dilakukan oleh perpustakaan provinsi NTT dan juga inovasi yang dilakukan oleh perpustakaan daerah bandung dapat kita ketahui bahwa perpustakaan senantiasa berusaha untuk menyesuaikan dengan era.

Dimana pada saat era milenial seperti sekarang ini peran perpustakaan masih sangat penting dan dibutuhkan untuk semua kalangan baik dari anak-anak hingga orang dewasa. Terakhir inovasi yang saya ketahui terkait prosedur mendaftar menjadi anggota perpustakaan nasional yang begitu mudahnya cukup dengan mengakses lewat link https://keanggotaan.perpusnas.go.id/daftar.aspx menunjukkan bahwa perpustakaan nasional telah jauh berubah.

Informasi ini saya peroleh ketika berkuliah dengan salah satu dosen yang telah mencoba dan sukses untuk mendaftarnya. Manfaat lain dari memiliki kartu anggota perpustakaan nasional ini adalah kita dapat mengakses untuk mendowload buku-buku ilmiah yang dapat dijadikan referensi untuk penulisan tugas akhir perkuliahan dalam bentuk soft file pdf maupun word doc. Selain itu ada juga banyak artikel-artikel penelitian yang memiliki indeks reputasi yang baik.

Perjalanan perpustakaan nasional Indonesia telah memasuki usia ke 40 tahun dimana ini merupakan suatu usia yang boleh dikatakan sudah cukup banyak dengan perubahan-perubahan yang juga dilakukan yang bisa kita lihat hasilnya sekarang ini.

Ketika saya ingin coba kunjungi perpustakaan daerah di Jogjakarta antrian untuk memasukinya lumayan panjang hal ini menunjukkan bahwa perpustakaan telah sukses menyesuaikan dirinya dengan para pengunjung. Yang notabene para pengunjung ini berasal dari para anak-anak hingga usia dewasa dimana mereka sangat menggandrungi dunia gadget.

Salah satu langkah menarik yang dilakukan oleh perpustakaan nasional adalah dengan menyiapkan tempat charger di banyak tempat untuk para pengguna gadget, laptop dan alat elektronik lainnya serta yang utama adalah kebebasan dalam mengakses internet dengan menyediakan wifi gratis.

Hal ini membuat para pengunjung perpustakaan nasional baik dari kalangan anak-anak hingga dewasa sangat menikmati, enjoy bahkan betah untuk berlama-lama berada di perpustakaan. Selain itu juga terdapat beberapa sarana umum diantaranya toilet, ruangan untuk beribadah seperti musholla dan tempat-tempat duduk untuk pengunjung yang dimodifikasi dengan tampilan yang menarik.   

Boleh saya simpulkan bahwa meskipun dunia telah banyak berubah dari era dimana tulang belulang digunakan sebagai alat tulis, kemudian paparus, pelepah daun, hingga kertas dan sekarang telah menjadi elektronik, perpustakaan akan senantiasa eksis.

Selamat ulang tahun yang ke 40 perpustakaan nasional Ku semoga semakin Berjaya ke depannya dan selalu berinovasi dalam mengemban tugas untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

 Referensi

Kompas. (2008). Perpustakaan Daerah Provinsi NTT Hanya Dikunjungi Pelajar. Retrieved from https://nasional.kompas.com/read/2008/09/12/07320872/perpustakaan.daerah.provinsi

RI, K. N. 5. (1997). Kepres RI No. 50. Retrieved from http://ppidarpus.ppid.nttprov.go.id

Rabu, 05 Agustus 2020

Kado Hari Anak Nasional

Menyambut hari anak nasional yang lalu, membuat saya ingin memberikan sebuah hadiah berupa tulisan tentang fenomena para peserta didik yang mengalami banyak kendala dalam proses pembelajarannya.
https://yogyakarta.jatimtimes.com/opini/219301/20200723/125200/belajar-dari-rumah-pemerintah-desa-bagusnya-pasang-wifi-gratis
Tulisan diatas menurut kabar terkini telah ditindak lanjuti oleh Ibunda Gubernur Jatim tapi bukan karena tulisan saya di atas lho 😊🙏
Alhamdulillah, saya haqqul yakin bahwa usaha memperbaiki pendidikan putra/i kita akan terus digalakkan oleh para stakeholder, langkah berikutnya yakni peran kita selaku orang tua serta lingkungan masyarakat juga harus lebih pro aktif untuk menyukseskan generasi emas bangsa Indonesia yang akan datang.

Latihan Dimensi Tiga dengan Program Geogebra

Tutorial Melakukan Kegiatan

Materi: Dimensi Tiga

Pertanyaan:

Diketahui kubus ABCD EFGH dengan panjang rusuk 2 cm. Tentukan jarak titik B ke bidang ACF!

Petunjuk Pengerjaan menggunakan Geogebra 6.0.

  •   Instal aplikasi geogebra 6.0 dengan icon ....  pada laptop/computer anda.
  • Buka aplikasi geogebra hingga muncul tampilan seperti berikut.

 

  • Gunakan icon               untuk membuat persegi dengan panjang sisi 2 cm pada grafik 2D seperti gambar di bawah ini.

 

  • Setelah itu klik untuk memunculkan view grafik 3D

 

  • Akan muncul tampilan seperti berikut.

 

  • Langkah berikutnya klik icon … agar terbentuk kubus dengan panjang rusuk 2 cm seperti gambar berikut.
  • Langkah berikutnya membuat diagonal dengan cara ketikkan pada kotak input segment[A,C] begitu juga untuk diagonal satunya dengan cara ketikkan pada kotak input segment[…,…]

 

  • Kemudian titik potong diagonal g dan h beri nama titik potongnya dengan I dengan cara pilih icon …
  • Langkah selanjutnya yaitu menampilkan bidang ACF dengan cara menulis pada kolom input yaitu ‘polygon[A,C,…] kemudian enter
     
  • Berikutnya membuat garis BH dengan cara menulis pada kolom input  …[B,H] kemudia enter maka akan muncul tampilan seperti berikut.
  • Selanjutnya membuat garis FI dengan cara menulis pada kolom input segment[…,…] kemudian enter, maka akan mucul seperti berikut.
     
  • Selanjutnya beri nama perpotongan antara garis BH dan FI dengan nama J dengan cara memilih icon ‘intersect’
  • Langkah selanjutnya yakni pada kolom input ketikkan Jarak B = segmen[B,J] kemudian tekan enter maka hasilnya dapat kita lihat pada kolom algebra yakni hasilnya yaitu …

     

MODERASI BERAGAMA

Dalam memahami teks-teks agama, seringkali kita dihadapkan pada banyaknya perbedaan-perbedaan yang akhirnya dapat menyebabkan permusuhan dan...

Populer